Posted on Agustus 3, 2008 by Nabila Firdausi
aku tak tahu apakah benar itu adalah kebenaran yang memaksa dibenarkan dengan adanya pembenaran darimu yang selalu merasa benar
aku benar benar tak mengerti bagaimana memahami kebenaran yang datang darimu yang selalu benar dalam segala aspek yang kurasa itu benar
saat benar benar tak pahami kebenaran itulah aku menemukan arti sebenar benarnya dirimu yang kuyakini ini adalah [...]
DIarsipkan di bawah: puisi - bella | Ditandai: poem | 2 Komentar »
Posted on Februari 20, 2008 by Nabila Firdausi
Ibu, hari ini engkau tak tersenyum
elok parasmu tertandingi kerutan di dahimu
wajah muram durja engkau tampakkan
saat menghitung biaya bulanan kali ini
Ayah, hari ini engkau tak tersenyum
peluh membasahi kemeja birumu nan lusuh
10 jam kau lalui dalam pekerjaanmu
namun tampaknya tak mengubah penghasilanmu
Adik, hari ini engkau tak tersenyum
sepatu baru yang dijanjikan Ibu tak kunjung terbeli
biaya sekolah yang dipastikan Ayah [...]
DIarsipkan di bawah: puisi - bella | 2 Komentar »
Posted on Januari 22, 2008 by Nabila Firdausi
tik tak tik tak
jarum jam menunjuk siang
berlarilah kau keluar
senang
jes jes jes puur
lokomotif tua datang
berbinarlah sinar matamu
riang
cek cek cek cek
ayun langkahmu melibas air di jalanan
tak kau hiraukan rintikannya mengadu
menyenangkan
bruum brumm brumm brumm
raung ibumu meminta menutup hidungmu
namun kau tetap berjalan menghirup buangan knalpot itu
santai
tahun pun berganti…
ctak ctik ctak ctik
gema ketikan di keyboard mengalun lantang
kau biarkan manusia lalu [...]
DIarsipkan di bawah: puisi - bella | Ditandai: saat kita masih kecil | 1 Komentar »
Posted on Januari 22, 2008 by Nabila Firdausi
Seorang pengelana menuju ke arah utara…
Ia adalah pangeran dari Kerajaan Angkasa. Tubuhnya gagah perkasa, wawasannya luas dan ia terlatih dalm berperang di setiap pertempuran. Telah lama ia berkelana. Mencari. tak henti mencari. Mencari cinta.
Kerajaan Awan
muncul sesosok pria gagah berkuda yang datang dari arah selatan. para pria berdiri tegak untuk melihatnya. para wanita melirik padanya. sang [...]
DIarsipkan di bawah: puisi - bella | Ditandai: cinta | 2 Komentar »